Astacala.org

ARTIKEL LINGKUNGAN

Pulau Bangkaru dan Air Mata Penyu Hijau


    Air mata penyu hijau menetes di sekeliling liang besar, tempat dia meletakkan telur-telurnya. Dengan air matanya itu, sang penyu berharap biawak, pemangsa alami telur penyu yang mengandalkan penciuman, akan kesulitan mencari posisi di mana telur-telur itu diletakkan. Penyu hijau (Chelonia mydas) yang panjangnya sekitar 80 sentimeter itu melangkah pelan meninggalkan Pantai Amandangan di Pulau Bengkaru, dan kembali ke Samudra Hindia. Malam yang dingin dan penuh perjuangan telah usai, dan sepertinya semuanya lancar.

    Namun, ternyata tidak juga. Biawak mungkin saja tertipu, tetapi manusia tidak. Esok paginya, dua pencari telur penyu dengan mudah menemukan telur-telur itu. Dengan besi panjang yang ditusuk-tusukkan ke seputar liang berdiameter sekitar 1,5 meter itu, kedua pencari telur penyu di Pulau Bengkaru tak kesulitan menemukannya. Pagi itu, telur penyu hijau yang berhasil mereka kumpulkan dari tiga liang mencapai 350 butir.

    Semua telur penyu itu mereka bawa ke gubuk kayu sekitar dua kilometer dari tempat pendaratan penyu-penyu itu. Di sana telur itu dibersihkan, dijemur beberapa saat, dan kemudian dimasukkan ke karung bersama telur penyu yang dikumpulkan hari-hari sebelumnya. Selain telur penyu hijau, Pulau Bengkaru juga menjadi tempat bertelur penyu belimbing (Dermochelys coriaceae) yang sangat langka.

    “Seminggu sekali juragan Sumali akan mengambil telur ini sambil membawa perbekalan makanan, rokok, dan obat-obatan untuk kami,” kata salah seorang pencari telur itu. Juragan Sumali (36) adalah pengusaha lokal dari Pulau Balai, Kecamatan Kepulauan Banyak, Kabupaten Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam. Adiknya, Risman (34), menjadi pemegang kontrak pengelolaan telur penyu di Bengkaru dengan Pemerintah Kabupaten Singkil berdasarkan Surat Perjanjian Kontrak Nomor 973/475/2005 yang ditandatangani Risman selaku pengusaha, dan Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kabupaten Singkil Sjamsuddin Rizzard atas nama Bupati Singkil, tanggal 23 Oktober 2005.

    Selembar surat itulah yang membuat Risman dan Sumali serasa menjadi pemilik pulau itu—setidaknya hal itu yang diungkapkan penduduk lokal mengenai keduanya.
“Pengambilan telur penyu di Bengkaru tak melanggar aturan. Kami punya perjanjian kontrak dengan Pemkab Singkil,” kata Sumali. Katanya, tiap bulan dia harus menyetor Rp 1 juta ke Dispenda Kabupaten Singkil atas hak pengelolaan telur penyu di pulau seluas 12.000 hektar yang tak berpenghuni itu.

    Sumali juga mengaku harus mengeluarkan Rp 1,6 juta setiap bulan untuk membayar sejumlah pejabat di lingkungan Kecamatan Pulau Banyak hingga di Kabupaten Singkil. Untuk mengambil telur penyu di Bengkaru yang berjarak sekitar 58 mil dari Singkil atau 36 mil dari Pulau Balai, dia harus mengeluarkan Rp 500.000 untuk membeli solar kapalnya.

    Sumali membayar dua pekerjanya dengan membeli Rp 225 per butir telur yang mereka kumpulkan. Sumali kemudian menjual Rp 700 per butir telur kepada para pedagang di Singkil ataupun di Sibolga, Sumatera Utara. Di Medan, telur penyu itu dijual Rp 1.500-Rp 2.000 per butir.

    “Sekarang keuntungannya semakin kecil. Jumlah penyu yang bertelur di Bengkaru semakin berkurang, satu malam sekarang rata-rata tiga hingga lima ekor sehingga tak setara dengan biaya operasional,” kata Sumali.

Terus menurun

    Menurut catatan Muhammad Tachsis, pegawai Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) NAD yang bertugas di Kepulauan Banyak, tahun 1982 penyu yang bertelur di Pantai Amandangan, Pulau Bengkaru, mencapai 100 ekor setiap malam. Sepuluh tahun kemudian (1992), jumlah penyu naik untuk bertelur tinggal 7-15 ekor pe malam, dan kini hanya tiga sampai lima ekor per malam.

    “Penyu hanya akan bertelur di mana dulu dia menetas. Penyu yang bertelur di Bengkaru akan kembali ke Bengkaru untuk bertelur jika dewasa. Kalau telurnya diambil terus, keberlanjutan penyu itu tentu akan musnah,” kata Tachsis. Dalam surat perjanjian kontrak antara Risman dan Pemkab Singkil disebutkan, pihak pengelola hanya diperbolehkan mengambil 50 persen telur penyu yang berada di titik ketiga pada garis pantai. Namun, pada praktiknya, dengan hak pengelolaan itu Sumali bebas mengambil dan menjual telur penyu dari semua penyu yang mendarat di Pulau Bengkaru.

    Dua orang suruhan Sumali terlihat mengambil semua telur penyu hijau yang malam sebelumnya bertelur, yaitu sekitar 350 butir dari tiga sarang. “Satu malam ada tiga hingga empat penyu hijau dengan jumlah telur sekitar 350-900 butir. Selama November hingga Januari tiap malam juga ada penyu belimbing yang bertelur,” kata dia.
Menurut Sumali, dia tidak mengambil telur penyu belimbing.

    “Telur penyu belimbing saya tangkarkan. Ini inisiatif saya sendiri. Pengusaha yang lama bahkan mengambil seluruh telur penyu, termasuk penyu belimbing. Pemerintah sebenarnya tak ambil pusing dan tak membantu penangkaran ini,” katanya. Meskipun demikian, pernyataan Sumali itu masih patut diragukan. Mungkinkah konservasi dilakukan oleh pengusaha telur penyu? “Saya pengusaha, tentu tak mau rugi. Jika telur yang saya ambil tak lagi sesuai dengan biaya yang saya keluarkan, hak pengelolaan ini akan kami lepas kepada orang lain,” katanya kemudian.

    Siang itu, saat Kompas ke Bengkaru, telur-telur penyu belimbing yang ditangkarkan Sumali ditemui dalam keadaan membusuk. “Dia tak tahu cara menangkarkan telur penyu. Masa inkubasi telur penyu hanya beberapa menit, tetapi dia memindahkan telur penyu itu ke tempat penangkaran baru pada pagi harinya sehingga telur rusak,” kata Tachsis.

    Sulit memang menyandingkan konservasi dengan bisnis penjualan telur penyu. Konservasi hanya mungkin jika disandingkan dengan kegiatan wisata ekologi. Dan, hal ini sebenarnya sudah pernah dilakukan di Bengkaru. Menurut Tachsis, pada era tahun 1997 hingga awal tahun 2001, penyu-penyu di Pulau Bengkaru pernah dikonservasi. Saat itu telur penyu di Bengkaru tak boleh diambil. Anders de Vos atau Mahmud Bengkaru, seorang warga Swedia, menjadi pelopor konservasi itu dengan mendirikan Yayasan Pelestarian Penyu di Pulau Banyak.

    “Yang dijual saat itu adalah wisata, termasuk wisata melihat penyu bertelur. Tiap hari ada turis asing yang datang. Sejumlah mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala juga datang melakukan penelitian. Telur-telur penyu itu aman selama empat tahun,” kata Tachsis yang ketika itu menjadi salah satu ketua yayasan itu.
Mahmud Bengkaru, menurut Tachsis, juga mendirikan pondok-pondok untuk wisatawan dan kegiatan penelitian di Bengkaru. “Salah satu pondok itu kini digunakan untuk menginap para pencari telur,” kata Tachsis.

    Namun, ketika suasana politik di Aceh kian memanas menyusul diberlakukannya status darurat militer, wisatawan tak bisa lagi masuk ke Aceh. Mahmud Bengkaru pun termasuk yang diharuskan pergi dari Bengkaru. Sejak itulah Pulau Bengkaru secara berganti-ganti jatuh ke sejumlah pengusaha untuk diambil telur penyunya. Terkait penjualan telur penyu oleh pengusaha atas seizin Pemkab Singkil, Pejabat Sementara Gubernur NAD Mustafa Abubakar berjanji segera menghentikan hal itu. Dia juga berjanji akan mengedepankan konservasi penyu di pulau itu.

    Adakah janji-janji itu akan terbukti sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap kelestarian hewan yang hampir punah itu? Atau, apakah air mata penyu-penyu itu hanya akan menjadi sia-sia…?

Penulis : Ahmad Arif
Sumber: Kompas, 29 Mei 2006

Share/Bookmark

komentar anda:
name:
mail: (optional)

smile:

smile wink wassat tongue laughing sad angry crying 

Untuk menghindari spam, maka fasilitas komentar ini telah dimoderasi. Silakan post komentar anda dan sesegera mungkin kami akan menampilkannya.

Terimakasih.

Search...

www astacala.org

KATEGORI BERITA

Forum Last Post

Selamat Hari Raya Idul Fitri
by: Gejor, 09/09/10
The Real Expedition
by: Onie, 09/09/10
Keliling Indonesia
by: Onie, 09/09/10
Pendakian Merbabu Pasca Lebaran 2010
by: Onie, 09/09/10
Beasiswa S2 - Swiss
by: Adek, 07/09/10
Permintaan Calon Bintang Iklan Extreme Sport Dji Sam Soe
by: masboy, 06/09/10
14 Tips Untuk Memperbaiki Foto Landscape
by: Gejor, 02/09/10
Buka Bareng Sahur Bareng
by: limasembilan, 01/09/10

Supports and Links



Kisah Perjalanan
Merayapi Tebing Lawe, posted on 12 Jul 2010
Serayu di Hati Kami, posted on 08 Jul 2010
Geliat Pariwisata Pulau Tidung, posted on 06 Jul 2010
BERITA
Sebuah Pita Hijau untuk Pengingat Kita, posted on 21 Apr 2010
Sekolah Caving Lembah Purnama, posted on 18 Mar 2010
Longsor Ciwidey, posted on 07 Mar 2010
LINGKUNGAN
Peduli Sungai Cikapundung, posted on 13 Apr 2010
Banjir (Lagi) di Dayeuhkolot Bandung (2) , posted on 26 Mar 2010
Banjir (Lagi) di Dayeuhkolot Bandung (1), posted on 26 Mar 2010
Opini dan Artikel
Avatar, Papua, dan SBY, posted on 30 Apr 2010
Renungan untuk Hari Bumi, posted on 19 Apr 2010
Tapa Brata Nyepi, posted on 16 Mar 2010
Kisah Perjalanan
Nirwana Bernama Pulau Banda, posted on 12 Jul 2007
, posted on 30 Jun 2006
, posted on 05 Oct 2005
Serba serbi
Hanging Camp, posted on 13 Jul 2010
Mountain Bike, posted on 13 Jun 2010
Pasar Terapung Di Sungai Barito, posted on 02 Jun 2010